Wisata Pulau Tidung (2)

Transportasi
Ada beberapa cara untuk menuju Tidung. Wisatawan umumnya berangkat dari  Pantai Muara Angke dan Pantai Marina Ancol. Karena dalam rombongan kami ada balita usia 3 tahun dan manula usia 83 tahun, maka kami pilih naik speed boat dari Pantai Marina Ancol, jadi tidak terlalu lama tergoncang-goncang ombak. Isi kapal tergantung ukuran speed boatnya, berkisar antara 30-50 orang per kapal. Makin besar kapal sebenarnya makin nyaman, karena relatif lebih tahan terhadap goncangan ombak. Apalagi kami jalan di bulan Desember yang sering hujan.
Berangkat pk 7.30 dari Dermaga Marina perjalanan lebih kurang satu jam. Sampai di Tidung kapal sandar di Dermaga Perhubungan. Di Tidung Besar ini terdapat dua dermaga, Yang pertama dermaga yang dibangun Departemen Perhubungan, orang pulau (begitu mereka menyebut diri mereka) menyebutnya itu Dermaga Betok atau Dermaga Perhubungan. Kapal yang datang dari Marina Ancol maupun Muara Angke akan sandar di Dermaga Betok.
Tak jauh dari Dermaga Betok ada lagi Dermaga RawaSaban, atau Dermaga Lampu Lapan. Sebenarnya tempat ini sebelumnya diperuntukkan sebagai kolam labuh bagi kapal-kapal Feri. Karena kapal ferinya sebagian besar dari Rawa Saban Tangerang, jadilah di sebut dermaga Rawa Saban.   Jadi Rawa Saban itu sebenarnya adalah nama pelabuhan di Tangerang. Di Dermaga Rawa Saban itu dibangun pelataran yang semula dimaksudkan sebagai tempat lelang ikan dan kolam labuh untuk melindungi kapal nelayan dari ombak. Pemerintah kemudian menyediakan pula penerangan lampu sorot seperti lampu yang di stadion bola. Karena jumlahnya lampunya delapan, maka orang pulau menyebutnya Dermaga Lampu Lapan.

Hari pertama kita berjalan-jalan di sekitar pulau dan naik sepeda ke Jembatan Cinta, anak-anak bermain pasir di Pulau Tidung Kecil. Pantai nya lumayan putih, apalagi kalau dibandingkan dengan Ancol. Pasirnya agak kasar. Cuma memang gak ada tempat bilas. Jadi akhirnya kita bilas di rumah saja. Dipinggir pantai juga ada pedagangl es kelapa muda , 7000 perbutirnya. Menikmati es kelapa muda sambil merasakan semilir angin pantai.. What a wonderful life..

Makan apa disana

Kalau traveling dengan keluarga besar, urusan makan pasti menjadi perhatian. Paket yang kami ambil sudah temasuk makan siang dan makan malam di hari pertama, makan pagi siang dan malam di hari kedua dan makan pagi di hari ketiga.    Makanannya sih standar nasi dengan ikan atau cumi , ditambah tahu atau tempe atau telor, plus kerupuk dan sambel. Kalau pagi bisa pilih nasi uduk atau nasi goreng. Oh ya nasi uduknya ternyata gak pakai sambel kacang, mungkin harus bilang, karena mungkin begitu nasi uduk disini. Di pagi hari kita bisa melihat beberapa ibu-ibu setempat mengantarkan box makanan ke rumah-rumah penginapan yang ada.

Porsi nasinya terlalu besar untuk ukuran saya yang gak pernah bisa makan porsi besar. Jadilah saya makan sebox berdua dengan anak saya. Untung adik iparku sudah siap dengan roti+mentega dan meses untuk anak-anak kecil yang gak doyan nasi uduk.
Oh ya kerupuk yang dihidangkan itu kerupuk ikan, berwarna agak kecoklatan , rasanya gurih dan tidak amis. Menurut ibu yang masak, itu krupuk dari Pulau Panggang, “”Saya belinya di Toko Bulog di Pulau Panggang. Kalau krupuk yang bikinan orang sini agak amis, saya gak enak ngasinya ke tamu-tamu” Menurut ibu itu lagi kalau mau pesan, seperempat kilo harganya sekitar Rp 8000.
Malam kedua kami disuguhi “barbeque” alias makan ikan bersama. Malam itu kami dibawa ke Dermaga Rawa saban atau Dermaga Lampu Lapan. Di sana telah terhampar tikar-tikar untuk peserta  barbeque. Kita tinggal duduk dan menunggu hidangan diantarkan. Malam itu kami makan ikan tongkol, ikan kembung/como dan cumi bakar. Ikan dan cumi dimakan dengan sambal kecap. Menurut penyelenggara, beberapa ikan seperti ikan tenggiri adanya musiman, hanya kalau laut sedang pasang. Di sekitar Tidung jarang ditemukan udang dan kepiting, ikan teri banyak ditemukan di Pulau Lancang. Karena hari itu cuaca mendung, sehingga tidak ada nelayan yang melaut, maka ikan yang kami nikmati itu bukan ikan tangkapan hari ini, tapi ikan kemarin yang sempat di simpan di fisher box.  Pelajarannya , datanglah pada musim yang benar..:)

 

Wisata Pulau Tidung (1)

Mau kemana liburan tahun ini? Keluarga besar kami biasa mengadakan acara liburan bersama setiap akhir tahun. Tahun-tahun terakhir kami sewa villa besar, dimana anak-anak bisa kumpul bareng, main dan ngerumpi sepuasnya. Tapi tahun ini yang keponakan yang kuliah di Bandung minta yang berbeda, “Kali ini dipantai dong, Tan. Masak kita di gunung terus.” Ketika ditanya mau kemana mereka mengajukan Pulau Tidung.

Sungguh, itu pertama kali saya dengar nama itu, norak ya? Ngakunya orang Jakarta, dan Tidung itu masih masuk wilayah Kabuapten Kepulauan Seribu, Daerah  Khusus Ibukota Jakarta. Katanya orang Indonesia yang tinggal di negara kepuluan, masak seumur-umur baru menginjakkan kaki di 5 pulau dari katanya ada 17.000 pulau.  Padahal kalau ketemu tamu bule dengan sombongnya bilang We live in archipelago ! Hiks..!

Fakta tentang Pulau Tidung
Informasi berikut ini berasal dari mbah mbah Google dan hasil jalan-jalan di pulau tersebut. Pulau Tidung itu adalah salah satu eh dua pulau di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pusat pemerintahan kabupaten ini terletak di Pulau Pramuka  yang mulai difungsikan sebagai pusat pemerintahan kabupaten sejak tahun 2003. Terdapat dua Kecamatan di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yakni Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau Tidung berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kelurahan Tidung. Saya katakan dua karena ada dua Pulau, yaitu Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Pulau Tidung Besar itu berpenghuni dan disana juga ada Kantor Lurah Tidung, sementara Tidung kecil sampai saat ini belum berpenghuni, disana hanya ada kebun benih milik Pemda.  Luas total sekitar 50 ha dengan 4000 orang penduduk. Antara  Pulau Tidung besar dan Tidung Kecil itu dihubungkan dengan jembatan yang diberi nama Jembatan Cinta. Sepertinya inilah tempat tujuan utama wisata di pulau ini.

Pilihan travel.
Ada banyak pilihan  paket travel yang bisa diambil. Umumnya harga bervariasi tergantung hari menginap, jumlah peserta dan fasilitasnya. Jika berangkat menggunakan kapal motor dari Pantai Muara Angke, katanya butuh waktu sekitar 2,5-3jam harganya sekitar 350 ribu untuk tiga hari dua malam. Kami semuanya 23 orang dalam satu rombangan, 3 hari dua malam harus bayar 620 ribu perorang, plus tuslah 25 ribu karena di musim natal dan tahun baru. Hehehe.

Jika menggunakan speed boat, anak-anak dibawah 3 tahun itu gratis. Oh ya biaya itu sudah termasuk trasportasi PP ke Jakarta-Tidung, penginapan, makan pagi, siang malam selama disana, dan paket snorklingnya, dan bersepeda keliling pulau sepuasnya. Rumahnya lumayan nyaman, 3 kamar tidur ber AC, pakai kasur, kasur ya bukan tempat tidur, 2 kamar mandi, dapur, ada kulkas 2 pintu, dispenser minuman air panas dan dingin, kompor gas, jemuran pokoknya lumayan lah.