Suatu Pagi di Teluk Jakarta

Kapal ini seharusnya telah berangkat sejak pukul 7 pagi. Entah kenapa setengah jam berlalu tidak tampak tanda tanda kapal akan bergerak.  Sepuluh menit menjelang pukul delapan, belasan orang berseragam biru putih bertuliskan DPD PAN Jakarta Utara masuk. Di punggug baju mereka terbordir tulisan putih “SAHABAT. H. Didi Supriyanto, SH , MHum. No urut 1 caleg DPR RI PAN , Jakarta Barat, Jakarta Utara , Kepulauan Seribu) akhirnya mesin kapal dihidupkan, Kapal bergerak perlahan.

Posisiku di geladak bawah kapal, di belakang ruang mesin. Di sini getaran mesin terasa keras, lebih dari getaran bajaj. Langit putih tertutup awan, sejauh mata memandang hanya kabut putih menutup permukaan laut hingga ke  cakrawala.

Di depan kami duduk dua keluarga muda. Keluarga pertama membawa anak laki berumur setahun, anak itu tampak tenang duduk dipangkuan ibunya, tak terlihat terganggu dengan getaran mesin kapal yang keras ini. Di depannya ayah anak itu duduk bersila sambil merokok, dia sama sekali tak peduli asap rokoknya menerpa wajah anaknya. Disampingnya sebuah mangkok mie instans yang hampir habis menjadi asbak rokoknya.

Di sisi lain sepasang suami istri dengan anak mereka yang berumur empat tahunan. Sang istri yang hamil besar, duduk bersandar sambil menjulurkan kakinya. Beberapa kali kulihat dia mendekapkan tangan ke telinga anaknya untuk mengurangi bunyi mesin kapal yang membisingkan.

 

Beberapa pemuda berbaju biru di luar belakangan ikut masuk, mereka duduk bersila melingkar di tengah kapal. Salah seorang dari mereka mengeluarkan kartu. Mereka bermain kartu untuk membunuh waktu.

Sepasang sepatu dengan tali yg saling diikatkan disiapkan untuk digantung di leher yang kalah

Getaran mesin kapal ini benar benar kencang. Aku merasakan seluruh tubuh , muka hingga pipiku bergetar hebat. Boleh jadi setibanya aku di pulau nanti mukaku akan jadi kencang.

Setengah jam berlalu, dua orang awak kapal mendatangi penumpang untuk memungut bayaran. Tiga puluh lima ribu rupiah untuk sekali jalan hingga ke pulau. Seorang diantara mereka membawa buku catatan, sementara yang seorang lagi mengumpulkan uang. Hah, pemisahan fungsi yang paling sederhana! Aku ingat kata dosen auditingku dulu, bagaimana perlunya pekerjaan mencatat dan mengumpulkan uang dilakukan oleh dua orang yang berbeda. Walaupun itu tidak ada gunanya juga kalau mereka berdua berkolusi, tapi tampaknya pemilik kapal ini memahaminya dan mempraktekkannya.

Korupsi di Indonesia, kata bosku, kental dengan kolusi. Suatu hal yang tidak bisa diatasi dengan pengendalian saja, apalagi kalau hanya pemisahan fungsi. Titik titik pengendalian telah berubah menjadi titik titik korupsi.

 

Contoh paling kasat mata adalah  anggota dewan yang semula dimaksudkan untuk mengawasi jalannya pemerintahan sesuai dengan keinginan rakyat? Kini berubah sesuai dengan keinginannya pribadi dan partainya. Ah, tak habis habis kata untuk menghujat situasi akhir-akhir ini tanpa bisa berbuat sesuatu untuk memperbaikinya.

Pandanganku tertumbuk kembali pada keluarga muda di depanku. Si bapak menghabiskan tetes terakhir dari aqua botol uang di tangannya. Dan tiba tiba dengan ringannya melempar botol plastik kosong itu ke laut. Argh ! ingin aku mencegahnya, tetapi suara mesin ini mengalahkan suaraku. Aku mengutuk diri sendiri tak berhasil mencegahnya mencemari Teluk Jakarta. Aku sedih melihat kelakuan orang Indonesia. Pendidikan yang dijalani hanya menambah gelar di belakang nama mereke saja, tanpa bisa mengubah manusianya menjadi lebih beradab.  Jika di darat, tentu sudah kuhampiri bapak itu dan minta dia memungut kembali sampahnya dan membuangnya ke tempat sampah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *