Rendang Nendang

Rendang Paru

Adalah biasa menemukan rendang di setiap rumah keluarga minang pada saat lebaran. Biasanya sih aku juga membuat rendang baik untuk di rumah atau diantar ke rumah mertua. Lebaran ini seperti biasa aku membuat rendang lagi, tapi kali ini sedikit beda. Kalau biasanya aku buat rendang daging, kali ini aku mencoba membuat rendang paru. Ada berbagai variasi rendang paru; ada rendang paru kering, rendang paru setengah kering atau rendang paru basah. Eh, tapi yang terakhir itu lebih tepat disebut kalio paru. Rendang paru kering dibuat dengan cara merebus atau mengukus paru terlebih dulu, setelah dingin baru paru diiris tipis-tipis. Jika ingin benar benar kering, jemur dulu paru itu seperti menjemur kerupuk, setelah kering baru digoreng dan dicemplungkan ke kuah rendang yang sudah setengah kental (kuah kalio). Yang suka setengah kering bisa langsung dicemplungkan ke kuah kalio tanpa harus dijemur dan digoreng, nanti paru akan ikut “tergoreng“ dengan minyak yang keluar dari kalionya.

Tapi ada satu tips penting untuk tidak membuat parunya liat seperti karet ban dalam, jangan lupa masukkan parutan nenas muda ke dalam kuah kalio. Untuk 2 kg paru bisa gunakan 1 butir nanas muda (lebih kurang 400 gr). Ini membuat parunya menjadi empuk dan maknyuss !

Rendang Vegetarian

Kalau dulu sih rendang versi ini di kampung disebut rendang melarat. Karena hidup melarat, harga daging mahal tak terbeli, maka aneka tumbuhan pun direndang. Yang paling sering itu kentang (yang kecil-kecil), kacang merah, nangka muda atau daun daunan seperti daun pakis, daun singkong. Tapi daun mangga, daun kedondong, daun arbei dan daun surian (jawa : suren) konon juga enak direndang. Pada prinsipnya semua jenis daun yang biasa dimakan kambing akan enak-enak saja untuk dibuat rendang. Lebaran ini aku belajar rendang vegie ini dari eteknya suamiku. Etek membuat rendang kentang dicampur daun singkong. Menurut beliau ada sedikit beda bumbu antara rendang daging dan rendang vegie. Pada rendang vegie, beliau hanya menggunakan cabe, bawang merah, kunyit, jahe , daun kunyit dan sereh. Jadi tanpa bawang putih, laos, dan daun jeruk. Sebaliknya kalau bikin rendang daging beliau malah tidak pakai kunyit. Lalu agar ada rasa gurih  beliau menambahkan teri jengki pada rendangnya. Jadi gak benar-benar vegie juga ya.;) Terinya cukup dicuci dan dicempulungkan ke kuah, begitu juga kentang dan daun singkong tidak perlu direbus dulu, langsung masukkan saja saat rendang masih berbentuh kuah gulai.

Oh ya buat yang baru belajar bikin rendang, jangan bingung ya dengan aneka resep rendang yang beredar. Karena asal tahu saja setiap kampung di Sumatera Barat sana punya resep rendangnya masing-masing. Jadi gak ada yang salah dan gak ada yang benar. Selain itu etek juga bilang kalau beliau suka menambahkan sedikit ketumbar pada bumbu rendangnya.  Sebagai informasi ketumbar itu akan membuat rendangnya cepat hitam.

Rumus ketumbar jadi hitam itu sebenarnya pernah aku dengar juga dari teman yang asli Solo. Katanya, kalau kita makan ayam/bebek/lele goreng di warung tenda itu lalu lihat  minyaknya sangat hitam, jangan buru-buru menuduh kalau minyak yang digunakan sudah bekas dan tidak diganti berhari hari. Karena itu juga bisa berarti si tukang masak menggunakan ketumbar pada saat membumbui ayam/bebek/lele goreng nya. Ketumbar dalam bumbu itu membuat makanan jadi enak tapi juga membuat minyaknya jadi cepat hitam.

Agusutus 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *