Berbuat baik belum tentu dianggap baik

“Dasar orang kurang kerjaan !” Gerutu sopir taxi itu membuyarkan lamunanku memandang hijau pohon di tol menuju Bandara.

“Kenapa pak? ” tanyaku hati-hati, karena sepertinya dia kesal sekali.

“Lihat tuh bu, pohon masih pendek-pendek sudah dipotong lagi. Apa tidak kurang kerjaan !” katanya sambil menujuk petugas taman yang sedang meotong pohon teh-tehan yang ada di sepanjang jalur hijau.

“Oh , gitu ya pak ? ” kataku masih bingung dan mencoba memahami sumber kekesalannya. ” Iyalah bu, pohon bagus-bagus dipotong jadi petak-petak. Kan lebih bagus kalau dibiarkan bentuk alami.” katanya berusaha menjelaskan.

“Lebih alami ya pak ” sahutku setengah bergumam. ” Pohon dibiari anja alami kenapa! Seperti pohon beringin itu kan tumbuh besar, dibiarin alami gitu lho bu”.

Ternyata maksud baik dinas pertaman atau petugas yang memotong pohon teh-tehan itu yang kuyakin arena ingin menjadikan pemandangan jalur hijau terlihat rapi dan indah tidak dianggap benar oleh si sopir taxi. Buat beliau sesuatu yang indah itu apabila dibiarkan alami, apa adanya. Seperti pohon beringinnya..

 

Desember 2012

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *