Misi yang belum berhasil

Sudah sejak lama kantorku biasa menyelenggarakan acara donor darah. Acara ini diselenggarakan rutin setiap tiga bulan sekali.

Melihat banyaknya teman-teman yang ikut donor darah, tertarik juga aku ingin menjadi pendonor darah. Kenapa tidak berbagi untuk sesama, setetes darah untuk kehidupan.

Katanya juga konon menjadi pendonor darah itu bisa membuat badan lebih sehat. Berbagai hal baik lainnya lalu terbayang.

 

Setiap ada donor darah, aku selalu ditolak dengan alasan berat badan tidak sampai 45 kg. Biasanya juga karena kebetulan sedang haid, sedang tidak enak badan.  Kalau sedang tidak enak badan, tensi darahku sering drop ke angka 80/60.

Beberapa bulan yang lalu ketika angka timbangan naik, aku berteriak kegirangan. Akhirnya ! Kini aku punya kesempatan masuk dalam jajaran pendonor darah.

Ketika menerima pemberitahuan donor darah akan diadakan seminggu lagi, aku gembira. Yang pasti itu bukan jadwal haidku. Satu penghalang lagi bisa kusingkirkan.

Ketika hari H tiba, aku telah bersiap, sarapan pagi sudah dilakukan, jangan sampai tekanan darah turun hanya karena belum sarapan pagi.

Pukul delapan lewat sepuluh pagi , dengan rasa pede aku datang ke aula tempat diselenggarakan acara donor darah.

“Silakan isi absen mbak,” petugas pendaftaran yang manis itu mempersilahkan. Setelah absen, dia menyodorkan selembar kertas merah yang harus diisi. Mengisi formulir merah, semua pertanyaan kujawab tidak. Aku sedang sehat, tidak pernah sakit berat,kuning, sifilis, malaria, hemofilia, jantung,kencing manis, ginjal,  tidak juga pernah menggunakan  narkoba. Pokoknya tidak pernah punya riwayat  segala jenis penyakit yang ditanyakan itu.

“Silakan masuk “, kata mbak manis itu. Di sisi kanan setelah pintu masuk telah ada lima petugas berderet. Di sisi lain aula terlihat berderet sepuluh tempat tidur lipat. Beberapa telah terisi pendonor yang sedang diambil darahnya. “Aku ingin berada di salah satu tempat tidur itu “, bisikku dalam hati.

“Silakan timbang berat badan,mbak.” kata petugas  di deretan ketiga.  Rupanya dua petugas pertama bukanlah petugas PMI, mereka hanya sales obat penurun berat abdan. Di depan mereka tertulis  : CEK LEMAK. Aku sigap berdiri di atas timbangan di depan petugas ketiga. 46 !  yes ! Batas minimal 45 kg terlewati sudah.

“Kartu donor nya ada ?” ,tanya petugas. Aku menggeleng.

“O, belum pernah menjadi donor sebelumnya ya, mbak ? “ petugas kesehatan yang di depanku menyakinkan bahwa aku memang newbie di sini.

” Iya bu, berat badan saya selalu kurang” jelasku dengan yakin.

“ Sedang haid?”

“Tidak “.

“ Coba tangannya” , dia meraih tangan kananku dan menusukkan jarum ke jari tengahku.” Ouch !” jeritku pelan, jariku ditusuk . Darah segar menetes keluar. Cepat disambut dengan sebuah pipet kapiler kecil yang menyedot darah yang keluar. Petugas meneteskan darahku ke alat pengukur HB  dan juga meneteskan ke seberkas kertas kecil dengan 3 buah lingkaran bertuliskan Anti A, Anti B.

“Golongan darah saya O ya bu? “ kataku sok tahu.

” Iya mba’. Kata ibu petugas dengan sabar. Sejenak dia melihat kembali ke alatnya.

“Maaf mbak. Mbak belum bisa menjadi donor. HB darahnya masih kurang.” . Cettar !

“ Berapa bu?” kataku tidak sabar dan setengah tidak percaya.

“11,6”

“ Harusnya ?”

“Antara 12,5 hingga 17”

“Laki-laki dan perempuan sama saja ?”  Dia menggangguk, raut  mukanya mulai menunjukkan di mulai terganggu dengan banyaknya pertanyaan perempuan yang ada di depannya. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya. Di belakangku sudah mulai ada antrian panjang. Aih, sudah saatnya aku harus pergi. Kaboorrr !.

“Terima kasih bu, mungkin lain kali ya?” kataku berbasa basi. Si ibu hanya mengangguk pelan dan aku cepat ambil langkah seribu meninggalkan ruangan.

Hah , ternyata aku masih termasuk kelompok orang yang berkekurangan, kurang HB darahnya, jadi belum bisa menjadi pendonor darah.

Moga-moga lain kali bisa lebih baik. Sabar, kalau masih ada usia kita lihat tiga bulan lagi.

Belajar Bahasa Indonesia -1

Membaca majalah tempo pagi ini, saya sempat terhenti ketika menemukan kata- kata yang tak biasa.  Selain Tempo dan Kompas tidak banyak media cetak yang cermat berbahasa Indonesia dalam tulisan –tulisan yang tersaji di medianya. Tetapi  membaca kedua media ini sering menambah khazanah bahasa saya. Coba baca kutipan berikut ini.

Melenting di dunia politik, terjerahap di ranah hukum. Drama yang dilakoni mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng sesungguhnya bukan cerita baru. Ada berjebah politikus cemerlang di banyak negara yang terkalang perkara sama: terjerat kasus korupsi. Selama politik kita masih didominasi praktek transaksi, akan selalu muncul kisah petualang dan korban pecundang (Tempo Edisi 17-23 Desember 2012).

BAHWA sesungguhnya menyebut “bahaya mengancam di atas bandara” bukanlah untuk merusak rencana liburan akhir tahun Anda. Tapi padamnya radar pada sistem lalu lintas udara Cengkareng dua pekan lalu jelas menunjukkan biutnya acaman itu. (Tempo Edisi 24-30 Desember 2012).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terjerahap dari kata dasar Jerahap  (v) *) berarti meniarap; menelungkup dengan tangan mendepang. Sementara mendepang (v) sendiri berarti 1 merentangkan kedua belah tangan ke kanan ke kiri; 2 menghadang (merintangi dsb) dengan kedua belah tangan direntangkan ke kanan dan ke kiri. Jadi terjerahap dapat diartikan terjatuh dengan tangan terbuka menahan badan yang akan jatuh, jatuh terjerembap.

Kata kedua yang menarik perhatian adalah kata berjebah yang berarti berlebih-lebihan; terdapat di mana-mana (tentang barang dagangan).  Terkalang sendiri dalam KBBI setidaknya memiliki empat arti, dan untuk kontkes kalimat di atas, terkalang berarti tergalang; terganjal. Dalam kalimat ketiga Tempo ingin mengatakan bahwa politikus cemerlang yang terganjal perkara korupsi  banyak ditemukan di berbagai negara .

Biut  berarti tidak mau sembuh-sembuh (tentang penyakit). Sejatinya Tempo ingin mengatakan bahwa ancaman di atas bandara masih selalu ada seperti penyakit yang tak kunjung sembuh

Berbuat baik belum tentu dianggap baik

“Dasar orang kurang kerjaan !” Gerutu sopir taxi itu membuyarkan lamunanku memandang hijau pohon di tol menuju Bandara.

“Kenapa pak? ” tanyaku hati-hati, karena sepertinya dia kesal sekali.

“Lihat tuh bu, pohon masih pendek-pendek sudah dipotong lagi. Apa tidak kurang kerjaan !” katanya sambil menujuk petugas taman yang sedang meotong pohon teh-tehan yang ada di sepanjang jalur hijau.

“Oh , gitu ya pak ? ” kataku masih bingung dan mencoba memahami sumber kekesalannya. ” Iyalah bu, pohon bagus-bagus dipotong jadi petak-petak. Kan lebih bagus kalau dibiarkan bentuk alami.” katanya berusaha menjelaskan.

“Lebih alami ya pak ” sahutku setengah bergumam. ” Pohon dibiari anja alami kenapa! Seperti pohon beringin itu kan tumbuh besar, dibiarin alami gitu lho bu”.

Ternyata maksud baik dinas pertaman atau petugas yang memotong pohon teh-tehan itu yang kuyakin arena ingin menjadikan pemandangan jalur hijau terlihat rapi dan indah tidak dianggap benar oleh si sopir taxi. Buat beliau sesuatu yang indah itu apabila dibiarkan alami, apa adanya. Seperti pohon beringinnya..

 

Desember 2012