Suatu Pagi di Teluk Jakarta

Kapal ini seharusnya telah berangkat sejak pukul 7 pagi. Entah kenapa setengah jam berlalu tidak tampak tanda tanda kapal akan bergerak.  Sepuluh menit menjelang pukul delapan, belasan orang berseragam biru putih bertuliskan DPD PAN Jakarta Utara masuk. Di punggug baju mereka terbordir tulisan putih “SAHABAT. H. Didi Supriyanto, SH , MHum. No urut 1 caleg DPR RI PAN , Jakarta Barat, Jakarta Utara , Kepulauan Seribu) akhirnya mesin kapal dihidupkan, Kapal bergerak perlahan.

Posisiku di geladak bawah kapal, di belakang ruang mesin. Di sini getaran mesin terasa keras, lebih dari getaran bajaj. Langit putih tertutup awan, sejauh mata memandang hanya kabut putih menutup permukaan laut hingga ke  cakrawala.

Di depan kami duduk dua keluarga muda. Keluarga pertama membawa anak laki berumur setahun, anak itu tampak tenang duduk dipangkuan ibunya, tak terlihat terganggu dengan getaran mesin kapal yang keras ini. Di depannya ayah anak itu duduk bersila sambil merokok, dia sama sekali tak peduli asap rokoknya menerpa wajah anaknya. Disampingnya sebuah mangkok mie instans yang hampir habis menjadi asbak rokoknya.

Di sisi lain sepasang suami istri dengan anak mereka yang berumur empat tahunan. Sang istri yang hamil besar, duduk bersandar sambil menjulurkan kakinya. Beberapa kali kulihat dia mendekapkan tangan ke telinga anaknya untuk mengurangi bunyi mesin kapal yang membisingkan.

 

Beberapa pemuda berbaju biru di luar belakangan ikut masuk, mereka duduk bersila melingkar di tengah kapal. Salah seorang dari mereka mengeluarkan kartu. Mereka bermain kartu untuk membunuh waktu.

Sepasang sepatu dengan tali yg saling diikatkan disiapkan untuk digantung di leher yang kalah

Getaran mesin kapal ini benar benar kencang. Aku merasakan seluruh tubuh , muka hingga pipiku bergetar hebat. Boleh jadi setibanya aku di pulau nanti mukaku akan jadi kencang.

Setengah jam berlalu, dua orang awak kapal mendatangi penumpang untuk memungut bayaran. Tiga puluh lima ribu rupiah untuk sekali jalan hingga ke pulau. Seorang diantara mereka membawa buku catatan, sementara yang seorang lagi mengumpulkan uang. Hah, pemisahan fungsi yang paling sederhana! Aku ingat kata dosen auditingku dulu, bagaimana perlunya pekerjaan mencatat dan mengumpulkan uang dilakukan oleh dua orang yang berbeda. Walaupun itu tidak ada gunanya juga kalau mereka berdua berkolusi, tapi tampaknya pemilik kapal ini memahaminya dan mempraktekkannya.

Korupsi di Indonesia, kata bosku, kental dengan kolusi. Suatu hal yang tidak bisa diatasi dengan pengendalian saja, apalagi kalau hanya pemisahan fungsi. Titik titik pengendalian telah berubah menjadi titik titik korupsi.

 

Contoh paling kasat mata adalah  anggota dewan yang semula dimaksudkan untuk mengawasi jalannya pemerintahan sesuai dengan keinginan rakyat? Kini berubah sesuai dengan keinginannya pribadi dan partainya. Ah, tak habis habis kata untuk menghujat situasi akhir-akhir ini tanpa bisa berbuat sesuatu untuk memperbaikinya.

Pandanganku tertumbuk kembali pada keluarga muda di depanku. Si bapak menghabiskan tetes terakhir dari aqua botol uang di tangannya. Dan tiba tiba dengan ringannya melempar botol plastik kosong itu ke laut. Argh ! ingin aku mencegahnya, tetapi suara mesin ini mengalahkan suaraku. Aku mengutuk diri sendiri tak berhasil mencegahnya mencemari Teluk Jakarta. Aku sedih melihat kelakuan orang Indonesia. Pendidikan yang dijalani hanya menambah gelar di belakang nama mereke saja, tanpa bisa mengubah manusianya menjadi lebih beradab.  Jika di darat, tentu sudah kuhampiri bapak itu dan minta dia memungut kembali sampahnya dan membuangnya ke tempat sampah.

Rendang Nendang

Rendang Paru

Adalah biasa menemukan rendang di setiap rumah keluarga minang pada saat lebaran. Biasanya sih aku juga membuat rendang baik untuk di rumah atau diantar ke rumah mertua. Lebaran ini seperti biasa aku membuat rendang lagi, tapi kali ini sedikit beda. Kalau biasanya aku buat rendang daging, kali ini aku mencoba membuat rendang paru. Ada berbagai variasi rendang paru; ada rendang paru kering, rendang paru setengah kering atau rendang paru basah. Eh, tapi yang terakhir itu lebih tepat disebut kalio paru. Rendang paru kering dibuat dengan cara merebus atau mengukus paru terlebih dulu, setelah dingin baru paru diiris tipis-tipis. Jika ingin benar benar kering, jemur dulu paru itu seperti menjemur kerupuk, setelah kering baru digoreng dan dicemplungkan ke kuah rendang yang sudah setengah kental (kuah kalio). Yang suka setengah kering bisa langsung dicemplungkan ke kuah kalio tanpa harus dijemur dan digoreng, nanti paru akan ikut “tergoreng“ dengan minyak yang keluar dari kalionya.

Tapi ada satu tips penting untuk tidak membuat parunya liat seperti karet ban dalam, jangan lupa masukkan parutan nenas muda ke dalam kuah kalio. Untuk 2 kg paru bisa gunakan 1 butir nanas muda (lebih kurang 400 gr). Ini membuat parunya menjadi empuk dan maknyuss !

Rendang Vegetarian

Kalau dulu sih rendang versi ini di kampung disebut rendang melarat. Karena hidup melarat, harga daging mahal tak terbeli, maka aneka tumbuhan pun direndang. Yang paling sering itu kentang (yang kecil-kecil), kacang merah, nangka muda atau daun daunan seperti daun pakis, daun singkong. Tapi daun mangga, daun kedondong, daun arbei dan daun surian (jawa : suren) konon juga enak direndang. Pada prinsipnya semua jenis daun yang biasa dimakan kambing akan enak-enak saja untuk dibuat rendang. Lebaran ini aku belajar rendang vegie ini dari eteknya suamiku. Etek membuat rendang kentang dicampur daun singkong. Menurut beliau ada sedikit beda bumbu antara rendang daging dan rendang vegie. Pada rendang vegie, beliau hanya menggunakan cabe, bawang merah, kunyit, jahe , daun kunyit dan sereh. Jadi tanpa bawang putih, laos, dan daun jeruk. Sebaliknya kalau bikin rendang daging beliau malah tidak pakai kunyit. Lalu agar ada rasa gurih  beliau menambahkan teri jengki pada rendangnya. Jadi gak benar-benar vegie juga ya.;) Terinya cukup dicuci dan dicempulungkan ke kuah, begitu juga kentang dan daun singkong tidak perlu direbus dulu, langsung masukkan saja saat rendang masih berbentuh kuah gulai.

Oh ya buat yang baru belajar bikin rendang, jangan bingung ya dengan aneka resep rendang yang beredar. Karena asal tahu saja setiap kampung di Sumatera Barat sana punya resep rendangnya masing-masing. Jadi gak ada yang salah dan gak ada yang benar. Selain itu etek juga bilang kalau beliau suka menambahkan sedikit ketumbar pada bumbu rendangnya.  Sebagai informasi ketumbar itu akan membuat rendangnya cepat hitam.

Rumus ketumbar jadi hitam itu sebenarnya pernah aku dengar juga dari teman yang asli Solo. Katanya, kalau kita makan ayam/bebek/lele goreng di warung tenda itu lalu lihat  minyaknya sangat hitam, jangan buru-buru menuduh kalau minyak yang digunakan sudah bekas dan tidak diganti berhari hari. Karena itu juga bisa berarti si tukang masak menggunakan ketumbar pada saat membumbui ayam/bebek/lele goreng nya. Ketumbar dalam bumbu itu membuat makanan jadi enak tapi juga membuat minyaknya jadi cepat hitam.

Agusutus 2014

Wisata Kuliner Kota Palu

Kota Palu ibukota provinsi Sulawesi Tengah terletak di Teluk Palu. Di teluk itu bermuara sungai yang membelah kota Palu menjadi Palu bagian barat dan Palu bagian timur. Di atas sungai terbentang jembatan baja, ada yang menyebutnya jembatan kuning karena warnanya kuning. Teluk itu dikelilingi perbukitan sehingga di pantainya kita tidak akan menemukan pemandangan matahari muncul  maupun tenggelam di cakrawala. Jadi lupakan saja keinginan melihat sunrise atau sunset di pantai palu.

Ini kunjungan saya yang ketiga ke Kota Palu Sulawesi Tengah. Setelah selalu sibuk dan terburu-buru, akhirnya siang itu kami berkesempatan mencoba wisata kuliner di kota Palu. Teman-teman di Palu menyarankan beberapa tempat untuk dicoba. Tapi karena waktu lebihnya  memang tidak banyak, jadi hanya dua yang sempat kami coba yaitu Soto Kaledo dan Ayam Uta Dada.

 

KALEDO STEREO

Untuk makan siang kami mencoba Soto Kaledo Stereo yang terletak  di  Jl Diponegoro no. 40.Palu. Rumah makan itu dikelola oleh Ibu Dahlia Sinjar yang asli Soppeng, konon beliau mendapat resep soto enaknya dari suaminya yang asli Donggala.   Rumah makan itu buka setiap hari pukul 10.00-22.00 termasuk sabtu minggu. Mereka tutup hanya pada hari raya lebaran saja.

Kaledo Stereo-1

Kami tiba di sana setelah waktu makan siang, tempatnya tidak terlalu besar, tapi bersih. Kaledo singkatan dari Kaki Lembu Donggala. Soto dapat dimakan dengan nasi putih, atau orang di sana juga biasa makan dengan jagung atau ubi kayu alias singkong yang direbus.   Karena ingin mencoba  kaledo dengan cara aslinya, maka saya pun memesan semangkok kaledo dengan ubi . Makanan berat yang dijual di sana memang hanya soto kaledo saja, jadi jangan cari nasi goreng atau nasi rames di sana, ya. Ketika kita tiba di sana pelayan langsung bertanya berapa porsi yang akan dipesan dan mau minumnya apa .

Tidak lama pesanan kami pun datang, semangkok soto kaledo dengan ubi.  Lengkap dengan sedotan untuk menyedot sumsum dari tulang kaki dan pisau untuk mengiris daging dan urat yang masih menempel di kaki lembu itu. Sotonya panas, gurih dan sangat terasa kaldunya. Tanpa diberi sambel pun sudah terasa enaknya. Sensasi rasa di mulut jadi menarik ketika rasa gurih dan daging yang empuk dipadu dengan singkong rebus yang bertekstur lembut. Lalu seruput dengan sedotan sum sum dari tulangnya. Mmmm… yummy !

Kaledo Stereo-2

 

Sebagai hidangan penutup di atas meja ada beberapa pilihan, salah satunya Barongko, sejenis kue pisang kukus sebagai penutup..

 

AYAM UTA DADA

Ayam Uta Dada artinya ayam kuah santan. Rumah makan yang kami coba kali ini terletak diperbukitan di sisi barat kota Palu di daerah Donggala Kodi.  Karena lokasi nya di atas bukit, kita bisa menikmati pemandangan kota Palu dari ketinggian dari rumah makan ini.

Dari kejauhan tampak Jembatan kuning

Dari kejauhan tampak Jembatan kuning

Seperti rumah makan kaledo, mereka juga tidak menyediakan makanan lain selain ayam uta dada dan ayam panggang ini. Jadi kita hanya ditanya mau makan berapa porsi dan minumnya apa. Di meja tersedia krupuk dan peyek sebagai pelengkap.

Ayamutadada

Masakan ini mirip opor ayam, hanya bumbunya lebih sederhana. Konon bumbunya hanya bawang merah, jahe merah, rawit , kunyit dan garam. Rasanya  pedas gurih  walau kuahnya tidak berwarna merah berasal dari rawitnya itu. Semangkok  ayam uta dada terdiri dari 3 potong ayam yang tidak terlalu besar dihargai Rp 50.000. Ayamnya menggunakan ayam kampung, sehingga rasa gurih ayamnya terasa sekali walau bumbunya konon tidak menggunakan bawang putih. Ayam Uta Dada dimakan dengan nasi atau ketupat. Selain itu mereka juga menyediakan ayam panggang khas Donggala. Ayam bakar dengan bumbu yang terasa manis pedas dan agak asam. Selamat menikmati.

Ayamutadada3

Misi yang belum berhasil

Sudah sejak lama kantorku biasa menyelenggarakan acara donor darah. Acara ini diselenggarakan rutin setiap tiga bulan sekali.

Melihat banyaknya teman-teman yang ikut donor darah, tertarik juga aku ingin menjadi pendonor darah. Kenapa tidak berbagi untuk sesama, setetes darah untuk kehidupan.

Katanya juga konon menjadi pendonor darah itu bisa membuat badan lebih sehat. Berbagai hal baik lainnya lalu terbayang.

 

Setiap ada donor darah, aku selalu ditolak dengan alasan berat badan tidak sampai 45 kg. Biasanya juga karena kebetulan sedang haid, sedang tidak enak badan.  Kalau sedang tidak enak badan, tensi darahku sering drop ke angka 80/60.

Beberapa bulan yang lalu ketika angka timbangan naik, aku berteriak kegirangan. Akhirnya ! Kini aku punya kesempatan masuk dalam jajaran pendonor darah.

Ketika menerima pemberitahuan donor darah akan diadakan seminggu lagi, aku gembira. Yang pasti itu bukan jadwal haidku. Satu penghalang lagi bisa kusingkirkan.

Ketika hari H tiba, aku telah bersiap, sarapan pagi sudah dilakukan, jangan sampai tekanan darah turun hanya karena belum sarapan pagi.

Pukul delapan lewat sepuluh pagi , dengan rasa pede aku datang ke aula tempat diselenggarakan acara donor darah.

“Silakan isi absen mbak,” petugas pendaftaran yang manis itu mempersilahkan. Setelah absen, dia menyodorkan selembar kertas merah yang harus diisi. Mengisi formulir merah, semua pertanyaan kujawab tidak. Aku sedang sehat, tidak pernah sakit berat,kuning, sifilis, malaria, hemofilia, jantung,kencing manis, ginjal,  tidak juga pernah menggunakan  narkoba. Pokoknya tidak pernah punya riwayat  segala jenis penyakit yang ditanyakan itu.

“Silakan masuk “, kata mbak manis itu. Di sisi kanan setelah pintu masuk telah ada lima petugas berderet. Di sisi lain aula terlihat berderet sepuluh tempat tidur lipat. Beberapa telah terisi pendonor yang sedang diambil darahnya. “Aku ingin berada di salah satu tempat tidur itu “, bisikku dalam hati.

“Silakan timbang berat badan,mbak.” kata petugas  di deretan ketiga.  Rupanya dua petugas pertama bukanlah petugas PMI, mereka hanya sales obat penurun berat abdan. Di depan mereka tertulis  : CEK LEMAK. Aku sigap berdiri di atas timbangan di depan petugas ketiga. 46 !  yes ! Batas minimal 45 kg terlewati sudah.

“Kartu donor nya ada ?” ,tanya petugas. Aku menggeleng.

“O, belum pernah menjadi donor sebelumnya ya, mbak ? “ petugas kesehatan yang di depanku menyakinkan bahwa aku memang newbie di sini.

” Iya bu, berat badan saya selalu kurang” jelasku dengan yakin.

“ Sedang haid?”

“Tidak “.

“ Coba tangannya” , dia meraih tangan kananku dan menusukkan jarum ke jari tengahku.” Ouch !” jeritku pelan, jariku ditusuk . Darah segar menetes keluar. Cepat disambut dengan sebuah pipet kapiler kecil yang menyedot darah yang keluar. Petugas meneteskan darahku ke alat pengukur HB  dan juga meneteskan ke seberkas kertas kecil dengan 3 buah lingkaran bertuliskan Anti A, Anti B.

“Golongan darah saya O ya bu? “ kataku sok tahu.

” Iya mba’. Kata ibu petugas dengan sabar. Sejenak dia melihat kembali ke alatnya.

“Maaf mbak. Mbak belum bisa menjadi donor. HB darahnya masih kurang.” . Cettar !

“ Berapa bu?” kataku tidak sabar dan setengah tidak percaya.

“11,6”

“ Harusnya ?”

“Antara 12,5 hingga 17”

“Laki-laki dan perempuan sama saja ?”  Dia menggangguk, raut  mukanya mulai menunjukkan di mulai terganggu dengan banyaknya pertanyaan perempuan yang ada di depannya. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya. Di belakangku sudah mulai ada antrian panjang. Aih, sudah saatnya aku harus pergi. Kaboorrr !.

“Terima kasih bu, mungkin lain kali ya?” kataku berbasa basi. Si ibu hanya mengangguk pelan dan aku cepat ambil langkah seribu meninggalkan ruangan.

Hah , ternyata aku masih termasuk kelompok orang yang berkekurangan, kurang HB darahnya, jadi belum bisa menjadi pendonor darah.

Moga-moga lain kali bisa lebih baik. Sabar, kalau masih ada usia kita lihat tiga bulan lagi.

Belajar Bahasa Indonesia -1

Membaca majalah tempo pagi ini, saya sempat terhenti ketika menemukan kata- kata yang tak biasa.  Selain Tempo dan Kompas tidak banyak media cetak yang cermat berbahasa Indonesia dalam tulisan –tulisan yang tersaji di medianya. Tetapi  membaca kedua media ini sering menambah khazanah bahasa saya. Coba baca kutipan berikut ini.

Melenting di dunia politik, terjerahap di ranah hukum. Drama yang dilakoni mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng sesungguhnya bukan cerita baru. Ada berjebah politikus cemerlang di banyak negara yang terkalang perkara sama: terjerat kasus korupsi. Selama politik kita masih didominasi praktek transaksi, akan selalu muncul kisah petualang dan korban pecundang (Tempo Edisi 17-23 Desember 2012).

BAHWA sesungguhnya menyebut “bahaya mengancam di atas bandara” bukanlah untuk merusak rencana liburan akhir tahun Anda. Tapi padamnya radar pada sistem lalu lintas udara Cengkareng dua pekan lalu jelas menunjukkan biutnya acaman itu. (Tempo Edisi 24-30 Desember 2012).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terjerahap dari kata dasar Jerahap  (v) *) berarti meniarap; menelungkup dengan tangan mendepang. Sementara mendepang (v) sendiri berarti 1 merentangkan kedua belah tangan ke kanan ke kiri; 2 menghadang (merintangi dsb) dengan kedua belah tangan direntangkan ke kanan dan ke kiri. Jadi terjerahap dapat diartikan terjatuh dengan tangan terbuka menahan badan yang akan jatuh, jatuh terjerembap.

Kata kedua yang menarik perhatian adalah kata berjebah yang berarti berlebih-lebihan; terdapat di mana-mana (tentang barang dagangan).  Terkalang sendiri dalam KBBI setidaknya memiliki empat arti, dan untuk kontkes kalimat di atas, terkalang berarti tergalang; terganjal. Dalam kalimat ketiga Tempo ingin mengatakan bahwa politikus cemerlang yang terganjal perkara korupsi  banyak ditemukan di berbagai negara .

Biut  berarti tidak mau sembuh-sembuh (tentang penyakit). Sejatinya Tempo ingin mengatakan bahwa ancaman di atas bandara masih selalu ada seperti penyakit yang tak kunjung sembuh

Mengenal Bahasa Kerinci

Orang Kerinci khususnya Sungai Penuh punya persamaan dengan orang China, mereka  punya panggilan berbeda-beda untuk saudara sesuai dengan urutannya. Kakak tertua akan dipanggil dengan”Wo” . Kalau namanya Anhar ,jadilah dia dipanggil Wo Har. Kakak kedua dipanggil dengan “ngah” berikutnya “mbut” ,”nek” dan yang kelima “ndok” . Tapi sepertinya panggilan ini hanya untuk saudara laki-laki, karena saudara perempuan itu semuanya uni, persis seperti orang Minang.

Karena bahasa di Sumatera yang saya mengerti hanya  Bahasa Minang -dengan berbagai dialek- maka saya katakan bahwa  dalam beberapa hal  Bahasa Kerinci  sedikit mirip dengan  Bahasa Minan. Tapi miripnya  ya hanya sedikit, karena kosa kata yang berbeda lebih banyak.

Dengarkan bagaimana mereka berhitung satu sampai sepuluh : Satau, duwe, tige, empak, limo ,nang, ujeu, lapang, sambileang, sapuloah! Bandingkan dengan bahasa minang : Ciek, duwo, tigo, ampek, limo, anam, tujuah, lapan, sambilan, sapuluah !  Hayo mirip tapi beda kan?

Orang Kerinci umumnya bisa berbahasa minang,tetapi Orang Minang belum tentu bisa mengerti bahasa bahasa di kerinci.

Ada satu joke yang sering saya  dengar di Padang, katanya orang Kerinci itu kaya raya. Usut punya usut ternyata itu karena orang kerinci biasa memanggil temannya dengan kayo, karena dalam bahasa Kerinci kayo berarti kamu. Sementara di Padang dalam bahasa Minang, kayo itu artinya kaya.:)

Batale

Malam itu di Sungai Penuh, kami menghadiri undangan jamuan di rumah salah satu kerabat. Katanya sang tuan rumah tidak lama lagi akan pergi menunaikan ibadah haji. Kami tiba setelah isya , di ruang tamu rumah telah penuh dengan tamu yang sebagian bapak- bapak, sementara ibu ibu berkumpul di ruang tengah.

Kami duduk di lantai mengelilingi seperah. Oh ya ,di budaya minangkabau  juga dikenal budaya makan seperti ini. Yang dimaksud seperah adalah kain putih panjang yang dibentang tuan rumah di lantai. Nanti tamu-tamu akan duduk di karpet di sepanjang kain seperah untuk makan bersama-sama. Malam ini hidangannya adalah gulai putih atau gulai kurma,ya seperti ayam opor lah. Lalu ada gulai merah,gulai abeang, yang berwarna kuning ke merah-merahan,dan nasi ajiang. Yang dimaksud nasi ajiang adalah nasi putih dibungkus dengan daun pisang. Nasinya seperti nasi-nasi di daerah ini umumnya berasnya pra. Makanya saya sering agak susah menikmati makan disini  kalau harus makan nasi yang sudah tidak panas, karena dijamin nasinya sudah bercerai berai. Satu paket yang disebut sepaha adalah sebuah dulang besar, sepiring gulai putih dan gulai merah, lalu dikelilingi oleh beberapa bungkus nasi ajiang itu , plus sayur seperti selada padang. Hidangan penutupnya adalah pudding lapis yang yummy.

Selesai makan, tuan rumah menyampaikan maksud acara. Lalu ada beberapa petuah dari orang-orang yang dituakan. Setelah itu piring di ruang utama diangkat karena mereka akan melakukan “batale”.  Tuan rumah berbaris bergandengan tangan, berhadap-hadapan dengan tamu yang berbaris bergandengan juga. Jika baris tuan rumah maju, maka baris tamu akan mundur,sebaliknya jika baris tamumaju,maka baris tuan  rumah akan mundur. Gerakan itu dilakukan terus berulang sambil melantunkan pantun-pantun yang mendayu-dayu. Katanya arti pantun itu sedih sekali, ungkapan  hati karena harus melepas saudara yang pergi jauh. Pergi haji itu maksudnya, kan pergi jauh , apalagi kalau zaman dulu pergi haji kan bisa bisa berbulan bulan atau tahunan.  Saya tidak tahu sampai berapa lama mereka menarikan itu. Bayangkan dari jam 9 malam sampai jam11kami pulang belum ada tanda tanda batale  akan usai .

Selamat menunaikan ibadah haji uda dan uni,semoga beroleh haji yang mabrur

Wisata Pulau Tidung (3)

Mengenal Tidung
Salah satu tujuan berwisata adalah mengenal penduduk setempat. Dua tahun yang lalu Tidung tidak seramai sekarang, penerangan hanya ada dari jam 6 malam hingga jam 6 pagi menggunakan genset yang ada di tengah pulau. Tetapi sejak pemerintah menarik kabel bawah laut , listrik berlimpah, penduduk sudah mulai bisa punya AC. Sekarang banyak sekali rumah penduduk yang ber AC. Rumah tempat kami menginap listriknya 1300 watt dengan 2 AC dan 1 kulkas. Sejak itu banyak tamu dari Jakarta daan daerah lain yang berkunjung kemari.
Di Tidung tidak ada mobil, menurut cerita penduduk setempat, dulu pernah ada mobil,  kijang super, tapi karena jalan-jalannya kecil akhirnya mobil itu jadi susah kemana mana, dan sekarang dionggokan begitu saja. Jalan-jalan di Tidung umumnya adalah jalan conblock (coblestone) dengan lebar dua meteran yang cukup pas-pasan untuk becak motor berpapasan. Kendaraan utama di Tidung adalah sepeda motor dan sepeda. Hampir semua rumah penginapan di Tidung menyediakan layanan pinjam sepeda gratis yang bisa dibawa-bawa keliling pulau. Hanya yang gak tahan itu polisi tidurnya. Dimana-mana polisi tidur, di beberapa tempat jarak antar polisi tidur hanya 3 meter !. Sakitlah pantat terbanting-banting di sepeda pinjaman yang memang sudah tidak empuk itu.
Pulau Tidung merupakan pulau terbesar di Kecamatan Pulau Seribu Selatan. Pulau ini baru ramai sejak dua tahun terakhir sejak PLN menarik listrik kabel laut ke pulau ini. Orang Tidung bangga karena ini, Pulau Pramuka yang merupakan ibu kota kabupaten saja baru akan dapat sambungan listik seperti  mereka tahun depan. Tetapi memang Pulau Pramuka lebih kecil dari Pulau Tidung, hanya kabarnya di Pulau Pramuka ada penangkaran penyu sisik, nusa keramba, dan penangkaran bandeng. Hmm.. jadi kepengen ke sana.

Masuk ke Pulau Tidung suasana  religi terasa, di setiap gang eh jalan dipasang lambu box bertuliskan asmaul Husna. Mesjid terbesar di Pulau ini adalah mesjid Al Huda. Waktu kami ke sana (Desember 2011) mesjid sedang di renovasi.


Wisata Air.
Namanya juga ke pulau, yang dicari tentu wisata pantai dan air. Wisata air andalan Pulau Tidung adalah snorkling, hampir semua tawaran paket dari travel tour sudah termasuk snorkling. Paketnya sudah termasuk transportasi ke lokasi, peminjaman jaket pelampung, masker snorkling dan sepatu katak. Tetapi kalau untuk diving biasanya ada tambahan lagi. Oh ya, anda tidak harus bisa berenang untuk dapat menikmati pemandangan indah di dasar laut. Ada pemandu yang siap mendampingi dan mengajari cara menikmati snorkling. Untuk snorkling kami dibawa dengan motor laut ke arah Pulau Payung, Katanya di dekat pulau ini karangnya lebih bagus. Perjalanan lebih kurang 45 menit dengan motor laut yang mesinnya dari mesin colt diesel 4 silinder, 100 PK hehe. Oh ya mereka juga menyediakan dokumentasi untuk kegiatan di air ini. Jadi kalau ada yang mau bikin foto bawah air bisa lah. Biasanya yang dibawa adalah kamera pocket untuk kegiatan outdoor  yang waterproof. Cheese… klik !
Jembatan cinta adalah pusat wisata Pulau Tidung. Jembatan panjang dan berbelok-belok yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Tidung kecil adalah keindahan tersendiri. Menikmati pemandangan laut biru lepas di kiri kanan kita, sambil ditiup semilir angin laut. Jembatan ini juga digunakan orang untuk memancing, ada ikan dan cumi di perairan dangkalnya. Hanya jembatan ini memang belum diberi pagar, jadi menurut saya agak berbahaya juga dilewati kalau angin kencang. Di ujung awal jembatan ini dibangun jembatan tinggi melengkung, banyak pengunjung mencoba loncat indah dari atas bagian jembatan yan tinggi itu.
Di dekat jembatan cinta juga banyak wisata air lainnya. Ada banana boat, ada bantal donat, itu lho bantal besar berbentuk donat. Kita duduk di atasnya atau ada juga model yang kita tengkurap di atas donutnya, lalu donatya di tarik dengan kapal. Bersiaplah untuk tergoncang-goncang di ombak . Hiiiyyaaa ! Untuk banana boat dan donat mereka biasanya menetapkan tarif Rp 35.000/orang. Kalau mau murah meriah, anak-anak bisa main di pantainya yang putih, melihat laut biru bening. Pantainya masih jauh lebih bersih dibanding Pantai ancol, masih lebih bagus inilah.  Kalau haus tinggal beli kelapa muda Rp 7.000 per butirnya

Ada dua tempat wisata di Pulau Tidung besar. Satu di ujung timur, dimana ada jembatan cinta yang menghubungkan Tidung Besar dan Tidung kecil. Yang bagus untuk menikmati matahari terbit, dengan catatan sedang tidak mendung. Kedua di pantai Tanjung Barat untuk menikmati matahari tenggelam. Pantai Tanjung Barat relatif sepi dan masih baru. Sekelilingnya masih rimbun oleh pohon. Untuk ke sana bisa dengan sepeda atau naik becak motor, seharga Rp 15.000/becak dari penginapan kami yang lokasinya agak di timur pulau. Karena pakai motor dan tidak dikayuh, jadi mungkin dianggap masih manusiawilah oleh Pemda Jakarta, hehe. Satu becak itu berarti bisa dua-tiga orang di depan dan satu orang diboncegan motor di belakangan si abang becaknya. Kami tidak melihat ada orang yang berenang di sana. Tetapi di sana disediakan saung-saung atau ayunan pohon untuk bersantai menikmati angin pantai. Kalau lapar di dekatnya ada warung yang sediah minuman panta, kopy, pocarswet dan kelapa muda hingga cemilan seperti  sukun goreng, atau gorengan dari aci campur ikan.

pelabuhan rawa saban jam 11 balik tidung tangerang jalan daratnya jauh, jadi wisatawan banyak dari angke. Pit, enjoy harus pesen sebulan satu pintu satu kamar ada yg tujuh pintu, 8 pintu, ada )g 2 kamar, langsung ngadep pantai, dekat taman kecamatan pian, fatir. Pantai barat masih natural, masih banyak pohon kelapa, pasirnya gak lebar, lebih sepi. Ibu taj priok, bp asli tidung, nempatin rmh bapaknyper porsi 60). Katering sub lagi. Ada tanah di barat 4 hektar 200-300 rbu ada 2 dermaga betok/ perhubungan , dermaga rawa saban/ lampu lapan tmpt naik motor laut dan feri ke tangerang

Wisata Pulau Tidung (2)

Transportasi
Ada beberapa cara untuk menuju Tidung. Wisatawan umumnya berangkat dari  Pantai Muara Angke dan Pantai Marina Ancol. Karena dalam rombongan kami ada balita usia 3 tahun dan manula usia 83 tahun, maka kami pilih naik speed boat dari Pantai Marina Ancol, jadi tidak terlalu lama tergoncang-goncang ombak. Isi kapal tergantung ukuran speed boatnya, berkisar antara 30-50 orang per kapal. Makin besar kapal sebenarnya makin nyaman, karena relatif lebih tahan terhadap goncangan ombak. Apalagi kami jalan di bulan Desember yang sering hujan.
Berangkat pk 7.30 dari Dermaga Marina perjalanan lebih kurang satu jam. Sampai di Tidung kapal sandar di Dermaga Perhubungan. Di Tidung Besar ini terdapat dua dermaga, Yang pertama dermaga yang dibangun Departemen Perhubungan, orang pulau (begitu mereka menyebut diri mereka) menyebutnya itu Dermaga Betok atau Dermaga Perhubungan. Kapal yang datang dari Marina Ancol maupun Muara Angke akan sandar di Dermaga Betok.
Tak jauh dari Dermaga Betok ada lagi Dermaga RawaSaban, atau Dermaga Lampu Lapan. Sebenarnya tempat ini sebelumnya diperuntukkan sebagai kolam labuh bagi kapal-kapal Feri. Karena kapal ferinya sebagian besar dari Rawa Saban Tangerang, jadilah di sebut dermaga Rawa Saban.   Jadi Rawa Saban itu sebenarnya adalah nama pelabuhan di Tangerang. Di Dermaga Rawa Saban itu dibangun pelataran yang semula dimaksudkan sebagai tempat lelang ikan dan kolam labuh untuk melindungi kapal nelayan dari ombak. Pemerintah kemudian menyediakan pula penerangan lampu sorot seperti lampu yang di stadion bola. Karena jumlahnya lampunya delapan, maka orang pulau menyebutnya Dermaga Lampu Lapan.

Hari pertama kita berjalan-jalan di sekitar pulau dan naik sepeda ke Jembatan Cinta, anak-anak bermain pasir di Pulau Tidung Kecil. Pantai nya lumayan putih, apalagi kalau dibandingkan dengan Ancol. Pasirnya agak kasar. Cuma memang gak ada tempat bilas. Jadi akhirnya kita bilas di rumah saja. Dipinggir pantai juga ada pedagangl es kelapa muda , 7000 perbutirnya. Menikmati es kelapa muda sambil merasakan semilir angin pantai.. What a wonderful life..

Makan apa disana

Kalau traveling dengan keluarga besar, urusan makan pasti menjadi perhatian. Paket yang kami ambil sudah temasuk makan siang dan makan malam di hari pertama, makan pagi siang dan malam di hari kedua dan makan pagi di hari ketiga.    Makanannya sih standar nasi dengan ikan atau cumi , ditambah tahu atau tempe atau telor, plus kerupuk dan sambel. Kalau pagi bisa pilih nasi uduk atau nasi goreng. Oh ya nasi uduknya ternyata gak pakai sambel kacang, mungkin harus bilang, karena mungkin begitu nasi uduk disini. Di pagi hari kita bisa melihat beberapa ibu-ibu setempat mengantarkan box makanan ke rumah-rumah penginapan yang ada.

Porsi nasinya terlalu besar untuk ukuran saya yang gak pernah bisa makan porsi besar. Jadilah saya makan sebox berdua dengan anak saya. Untung adik iparku sudah siap dengan roti+mentega dan meses untuk anak-anak kecil yang gak doyan nasi uduk.
Oh ya kerupuk yang dihidangkan itu kerupuk ikan, berwarna agak kecoklatan , rasanya gurih dan tidak amis. Menurut ibu yang masak, itu krupuk dari Pulau Panggang, “”Saya belinya di Toko Bulog di Pulau Panggang. Kalau krupuk yang bikinan orang sini agak amis, saya gak enak ngasinya ke tamu-tamu” Menurut ibu itu lagi kalau mau pesan, seperempat kilo harganya sekitar Rp 8000.
Malam kedua kami disuguhi “barbeque” alias makan ikan bersama. Malam itu kami dibawa ke Dermaga Rawa saban atau Dermaga Lampu Lapan. Di sana telah terhampar tikar-tikar untuk peserta  barbeque. Kita tinggal duduk dan menunggu hidangan diantarkan. Malam itu kami makan ikan tongkol, ikan kembung/como dan cumi bakar. Ikan dan cumi dimakan dengan sambal kecap. Menurut penyelenggara, beberapa ikan seperti ikan tenggiri adanya musiman, hanya kalau laut sedang pasang. Di sekitar Tidung jarang ditemukan udang dan kepiting, ikan teri banyak ditemukan di Pulau Lancang. Karena hari itu cuaca mendung, sehingga tidak ada nelayan yang melaut, maka ikan yang kami nikmati itu bukan ikan tangkapan hari ini, tapi ikan kemarin yang sempat di simpan di fisher box.  Pelajarannya , datanglah pada musim yang benar..:)

 

Wisata Pulau Tidung (1)

Mau kemana liburan tahun ini? Keluarga besar kami biasa mengadakan acara liburan bersama setiap akhir tahun. Tahun-tahun terakhir kami sewa villa besar, dimana anak-anak bisa kumpul bareng, main dan ngerumpi sepuasnya. Tapi tahun ini yang keponakan yang kuliah di Bandung minta yang berbeda, “Kali ini dipantai dong, Tan. Masak kita di gunung terus.” Ketika ditanya mau kemana mereka mengajukan Pulau Tidung.

Sungguh, itu pertama kali saya dengar nama itu, norak ya? Ngakunya orang Jakarta, dan Tidung itu masih masuk wilayah Kabuapten Kepulauan Seribu, Daerah  Khusus Ibukota Jakarta. Katanya orang Indonesia yang tinggal di negara kepuluan, masak seumur-umur baru menginjakkan kaki di 5 pulau dari katanya ada 17.000 pulau.  Padahal kalau ketemu tamu bule dengan sombongnya bilang We live in archipelago ! Hiks..!

Fakta tentang Pulau Tidung
Informasi berikut ini berasal dari mbah mbah Google dan hasil jalan-jalan di pulau tersebut. Pulau Tidung itu adalah salah satu eh dua pulau di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pusat pemerintahan kabupaten ini terletak di Pulau Pramuka  yang mulai difungsikan sebagai pusat pemerintahan kabupaten sejak tahun 2003. Terdapat dua Kecamatan di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yakni Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau Tidung berada di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kelurahan Tidung. Saya katakan dua karena ada dua Pulau, yaitu Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Pulau Tidung Besar itu berpenghuni dan disana juga ada Kantor Lurah Tidung, sementara Tidung kecil sampai saat ini belum berpenghuni, disana hanya ada kebun benih milik Pemda.  Luas total sekitar 50 ha dengan 4000 orang penduduk. Antara  Pulau Tidung besar dan Tidung Kecil itu dihubungkan dengan jembatan yang diberi nama Jembatan Cinta. Sepertinya inilah tempat tujuan utama wisata di pulau ini.

Pilihan travel.
Ada banyak pilihan  paket travel yang bisa diambil. Umumnya harga bervariasi tergantung hari menginap, jumlah peserta dan fasilitasnya. Jika berangkat menggunakan kapal motor dari Pantai Muara Angke, katanya butuh waktu sekitar 2,5-3jam harganya sekitar 350 ribu untuk tiga hari dua malam. Kami semuanya 23 orang dalam satu rombangan, 3 hari dua malam harus bayar 620 ribu perorang, plus tuslah 25 ribu karena di musim natal dan tahun baru. Hehehe.

Jika menggunakan speed boat, anak-anak dibawah 3 tahun itu gratis. Oh ya biaya itu sudah termasuk trasportasi PP ke Jakarta-Tidung, penginapan, makan pagi, siang malam selama disana, dan paket snorklingnya, dan bersepeda keliling pulau sepuasnya. Rumahnya lumayan nyaman, 3 kamar tidur ber AC, pakai kasur, kasur ya bukan tempat tidur, 2 kamar mandi, dapur, ada kulkas 2 pintu, dispenser minuman air panas dan dingin, kompor gas, jemuran pokoknya lumayan lah.